Jumat, 15 Januari 2021

Malaikat tak tersebut.

 Malaikat tak tersebut.

Aku gadis kecilmu, ayah. Aku masih ingin menjadi anak gadismu. Masih ingin kau timang, kau peluk, kau gendong dan tenangin aku saat bersedih. Masih ingin engkaulah yang menuntunku saat aku tesesat. Masih ingin menikmati makan malam denganmu ayah. Masih ingin ketegasanmu saat aku malas makan. Kecuekanmu yang sebenarnya kutau itu kwatir yang kau sembunyikan.
***
Aku ingin masih engkaulah yang menemaniku sampai menjadi wanita dewasa yang kuat dan sabar. Masih ingin dengar semua nasehat dan harapanmu yang kau sematkan untuk anak gadismu, ayah. Masih ingin dipelukmu saat aku takut akan hujan lebat dan petir yang mengejekku . Masih ingin dibujuk saat aku mulai merengek dan merajuk. Sungguh, ku masih ingin menjadi gadis kecilmu, ayah.
***
Aku ingin memilikimu seperti dulu ayah. Tapi takdir lebih menginginkanmu dari padaku. Angin malam ini sangat jahat, ayah, mengingatkan kenangan manis kita. Menghadirkan kembali masa-masa indah yang ku coba untuk lupakan. Menyuguhkan kasih yang dulu begitu sempurna dan utuh.
***
Ayah, ingat tidak sewaktu hujan dan aku sedang sakit? Ayah, dengan rela mengantarku pada pak dokter ganteng langganan kita. Ayah, ingat tidak saat aku merajuk tak ingin makan? Engkau mencoba dengan berbagai cara merayuku dengan makanan kesukaan kita . Itu sungguh mmenjadi hal yang paling menyakitkan semenjak kau tak ada.
***
Ayah, taukah engkau setelah kepergianmu aku sangat terpuruk dan susah untuk bangkit, merayap sekalipun aku tak sanggup. Taukah engkau ayah, aku selalu menyalahkan takdir yang egois memanggilmu, padahal aku jauh lebih membutuhkan bahumu. Padahal engkau yang paling tulus mencintaiku, menjagaku bahkan mengorbankan dirimu untukku.
***
Ayah, aku tak percaya bahwa ada laki-laki sebaik dan sehebat engkau yang kelak mencintaiku, menjagaku dan mengorbankan dirinya untukku dengan tulus. Tak percaya ada sosok yang mampu menggantikanmu dihatiku. Bahkan aku tak yakin bakal sebahagia denganmu dulu.
***
Ayah, aku selalu ingat semua pesanmu di detik-detik terakhir waktu kita. Doakan aku mampu mewujudkan semuanya ayah. Doakan aku agar aku menjadi wanita dewasa yang kuat dan tangguh. Sekuat dan setangguh dirimu. Doakan aku agar tak mengecewakanmu dan bisa membahagiakan ibu.
***
Ayah, aku rindu pelukanmu. Nyanyian lamamu menemani tidurku. Aku rindu sentuh kasih sayangmu yang tulus ayah. Sekarang, aku hanya mampu menyematkan namamu dalam doaku. Aku hanya mampu mendoakan dalam setiap rakaatku. Aku hanya mampu memeluk dan bersender di batumu untuk sekedar bercerita kejamnya dunia saat menertawakanku. Itu cukup untuk mengobati rasa rinduku padamu. Aku mencintaimu, ayah. Aku merindukanmu.

Malaikat tak tersebut.



Cikarang, 10 Februari 2017
Salam
Wuriami.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

20/365

  Hallo Januari, mari kita bercerita sedikit tentang beberapa hari yang berat beberapa bulan yang lalu yuk. Hallo Januari, kenapa kamu juga ...