
Menyesal bukanlah hasil yang aku harapkan dari mencintaimu.
Coklat hangat yang kau pesan telah terlalu lamu menunggu untuk disentuh.
Terlalu dingin, sedingin kamu sekarang terhadapku.
Perasaan ini bukanlah penyebab penyesalanku.
Perkenalan kita juga bukan pengambil alih semua sesal ini.
Aku mengenalmu dengan begitu hangat, kamu pun begitu kuharap.
Setangkai mawar selalu membuatku tersenyum sendiri, saat kubaca kartu dan namamu terpampang disana.
Aku beranggapan bahwa kita adalah pasangan yang paling sempurna.
Aku beranggapan bahwa aku wanita paling beruntung didunia ini.
Aku merasa terbang diatas awan.
Membumbung bersama embun yang indah.
Menari dengan burung-burung dilangit.
Bersinar seperti hangatnya mentari pagi.
Diawan kuhirup harumu semerbak sampai.
Ah, kuberdoa agar selamanya.
Petir datang dengan begitu kencangnya.
Kudengar tawaan keras seperti pertanda.
Tak kuhiraukan pertanda alam itu.
Walau banyak bicara yang mengatakan ku tak pantas untuknya.
Semua hanya wacana kukira awalnya.
Dan semuanya ternyata seperti mimpi buruk yang menjadi nyata.
Dia datang dengan kehangatan yang berbeda.
Entah apa yang kau rasa kau tergoda olehnya.
Cinta kita, kau dan aku sekarang ada dia.
Kita bertiga terjebak dalam cinta yang hitam kusebutnya.
Kau seakan terlupa dengan cintamu padaku.
Kau seakan buta oleh janji kita berdua.
Sekarang ku sambut gelap malam dengan segelap kisah kita.
Kuterjemahkan hujan sebagai penghanyut kebahagiaan.
Kuputuskan untuk melangkah perlahan tetapi tidak mundur.
Cinta akan terus akan ada disini. Dihatiku.
Semenjakmu pergi tak ada lagi ku kenal jatuh cinta.
Tak kurelakan perasaan ini terluka lagi.
Coklat hangat yang selalu kuseduhkan untukmu sekarang menjadi musuhku.
Karenanya kenangan tentangmu hadir.
Karenanya aku mengingat semua harapan indah kita berdua.
Aku bak debu yang tak berarti lagi.
Diombang-ambing angin dan terinjak terbuang.
Dari aku yang menunggumu pulang.
Wuriami
Tidak ada komentar:
Posting Komentar